Pekanbaru, Detak Indonesia -- Di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat, masyarakat adat Kenegerian Tandun, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, berupaya menjaga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Upaya itu mendapat dukungan dari PTPN IV PalmCo melalui PTPN IV Regional III. Perusahaan perkebunan sawit plat merah tersebut hadir dan membantu Lembaga Kerapatan Adat (LKA) Kenegerian Tandun memenuhi kebutuhan perlengkapan seni dan budaya untuk mendukung berbagai kegiatan adat, kesenian, serta pembinaan generasi muda.
Bantuan senilai Rp30 juta itu digulirkan guna menjaga agar tradisi Melayu tetap memiliki ruang di tengah perubahan pola hidup dan perkembangan teknologi.
Ketua Harian LKA Kenegerian Tandun Syawir J SPd Dt Mongguong mengatakan, menjaga adat dan budaya di tengah perubahan zaman bukan pekerjaan mudah. Terutama ketika generasi muda semakin banyak berinteraksi dengan budaya dan gaya hidup dari luar.
“Di tengah perkembangan zaman saat ini, menjaga adat dan budaya bukan pekerjaan yang mudah. Banyak generasi muda yang semakin jauh dari akar budayanya. Karena itu, kami sangat mengapresiasi kepedulian PTPN IV Regional III yang ikut mengambil bagian dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya Melayu Kenegerian Tandun,” kata Syawir.

Menurut Syawir, kehadiran PTPN IV Regional III akan membantu masyarakat adat menjalankan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan tradisi dan kesenian Melayu. Baginya, keberadaan perlengkapan seni dan budaya bukan semata kebutuhan pendukung kegiatan, tetapi bagian dari upaya menjaga tradisi tetap dipraktikkan dan dikenalkan kepada generasi muda.
Ia mengatakan, adat bagi masyarakat Tandun memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar simbol kebudayaan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, mulai dari kebersamaan, gotong royong, penghormatan kepada sesama hingga cara menyelesaikan persoalan melalui musyawarah.
“Adat adalah jati diri kami. Jika adat dan budaya hilang, maka hilang pula identitas masyarakat. Karena itu, dukungan seperti ini sangat berarti untuk memastikan tradisi yang diwariskan para leluhur tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang,” ujarnya.
Kenegerian Tandun merupakan salah satu wilayah masyarakat hukum adat Melayu di Kabupaten Rokan Hulu. Tradisi dan kelembagaan adat yang berkembang di wilayah tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat setempat selama berabad-abad.
Namun, perubahan zaman menghadirkan tantangan baru. Arus informasi yang semakin terbuka, perkembangan teknologi, serta perubahan pola interaksi sosial membuat generasi muda memiliki pilihan budaya yang semakin beragam.
Dalam situasi tersebut, Syawir menilai keberadaan lembaga adat dan dukungan berbagai pihak menjadi penting agar tradisi tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.
“Tradisi yang kami warisi dari para leluhur tidak boleh hilang ditelan zaman. Dengan dukungan seperti ini, kami lebih optimistis budaya Melayu Tandun akan tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang,” tuturnya.
Region Head PTPN IV Regional III Bambang Budi Santoso mengatakan, keberadaan perusahaan di tengah masyarakat membawa tanggung jawab untuk ikut menjaga nilai-nilai sosial dan budaya yang hidup di sekitar wilayah operasional.
Menurut Bambang, pembangunan berkelanjutan tidak dapat dipisahkan dari keberadaan masyarakat dan nilai-nilai yang menjadi bagian dari kehidupan mereka.
“PTPN IV Regional III tumbuh dan berkembang bersama masyarakat. Karena itu, kami memiliki tanggung jawab untuk turut menjaga kearifan lokal dan warisan budaya yang hidup di sekitar wilayah operasional perusahaan. Budaya adalah identitas, dan identitas itu harus terus dijaga agar tidak tergerus oleh perubahan zaman,” jelas pria berkacamata itu.
Ia mengatakan, dukungan kepada LKA Kenegerian Tandun merupakan bagian dari upaya perusahaan membangun hubungan yang baik dengan masyarakat sekaligus memperkuat kehidupan sosial di sekitar wilayah operasional.
Bambang menilai lembaga adat memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai kebersamaan dan membentuk karakter masyarakat. Karena itu, keberlangsungan aktivitas adat dan budaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk dunia usaha.
“Budaya Melayu adalah identitas masyarakat Riau yang harus dijaga bersama. Kami percaya pembangunan berkelanjutan tidak hanya soal ekonomi dan lingkungan, tetapi juga tentang merawat warisan budaya dan kearifan lokal,” demikian Bambang. (tim)